Selasa, 19 Juli 2011

Bersyukurlah...

Bismillahirrahmanirrahiim...

Oh, akhirnya...setelah lama tak menulis. Akhirnya saya kembali pada hobi saya, menulis. Ayey. :D
-lupakan- itu hanya pembuka yg tidak penting.

Semoga note ini akan selalu mengingatkan saya untuk selalu bersyukur, apapun kondisi dan keadaan saya, apapun yang saya dapatkan, dan apapun yang Allah tentukan.

Setelah sekian lama menggalau (brr), dan rasa galau itu masih membekas, akhirnya Allah menenangkan hati saya.
Bukan hati saya saja sih, hati banyak teman saya yang akhirnya diberi petunjuk dimana mereka harus melanjutkan sekolah.

Well, finally...
ALHAMDULILLAH...

Ya Allah, terimakasih atas nikmat tiada tara yang telah Engkau berikan kepada hamba.

Huff...setelah jatuh beberapa kali (2 kali SNMPTN doang sih, hha. *menghibur diri), akhirnya Allah segera memberi jawabanNya yang sangat sangat sangaaaaat menenangkan hati saya yang lama galau.

Yak, akhirnya terpilihlah Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran.
Alhamdulillah... :)

Tapi yah sebenernya perjuangan saya belom berakhir...
Siapa tau Allah menghendaki saya lulus ke Jepang. :)

Pokoknya sekarang mah,

mommy, daddy... (sok iyeh)
suatu hari akan kuganti...
smoga Allah mencukupkan waktuku, waktu kami, dan waktu kita bersama. amiin...

Allah, aku yakin ada rahasia indah di balik semua ini. :)

Sabtu, 09 Juli 2011

Saya tidak pernah merasa setakut dan secemas ini. Memikirkan masa depan yang belum jelas.
Kuliah dimana, belum jelas. Demi Allah, saya takut.

Saya tau, Allah pasti tidak akan menciptakan sesuatu tanpa ada hikmah di balik semuanya. Hanya saja, saya terkadang terbawa emosi dan ketakutan yang keterlaluan, semuanya berkecamuk di pikiran saya.
Saya tidak pernah terpikir akan seperti ini jadinya, awalnya saya harap semuanya berjalan lancar-lancar saja. Tapi nyatanya Allah menyatakan bahwa bukan lewat SNMPTN-lah saya bisa masuk perguruan tinggi yang saya inginkan. Sebagai manusia biasa yang emosinya amat sangat mudah labil, saya menggalau. Saya tau ini tidak baik untuk otak saya, tidak baik untuk segalanya. Tapi toh nyatanya memang saya tidak bisa untuk tidak menggalau setelah pengumuman yang di dalamnya tertera kata MAAF -yang sungguh sangat menyakitkan- itu saya lihat.

Saya tau saya cengeng. Ini salah?
Tangisan saya toh luapan kekecewaan saya atas usaha saya yang ternyata belum optimal. Saya tau masih banyak yang harus saya perbaiki.

Saya menangis, dan mamah saya ikut menangis. Ini yang bikin saya tambah pedih.
Rasanya kejadian itu baru kemarin.

Lalu sekarang, saya sudah melalui SIMAK, sedang mencoba log in SMUP yang sempat error dan bikin saya frustasi setengah mati. Dan akhirnya besok saya harus mencoba tes untuk beasiswa kedutaan besar Jepang.

Hmmm...bagaimana yah,
Saya menikmati saat saya bisa menyemangati orang lain dalam hidup mereka. Membuat orang lain bahagia itu membahagiakan saya juga. Rasanya senang jadi motivator untuk mereka.
Tapi pada kenyataannya, saya belum bisa jadi motivator untuk diri saya sendiri. Hati dan pikiran saya sering tidak sinkron. Akhirnya saya capek, lalu tidur.

Di saat seperti ini, memang saat yang begitu rapuh buat saya. Saya sempat berpikir bahwa hidup saya cuma merepotkan mereka saja, apalagi orangtua saya. Saya mengerti, kondisi keluarga saya biasa-biasa saja. Tapi satu hal yang membuat saya benar-benar bersyukur adalah, bahwa orangtua saya tidak menekan saya harus kuliah dimana. Yang penting saya suka, mereka merestui itu.
Alhamdulillah.

Dunia ini singkat. Hanya saja tidak sederhana.

Di saat seperti ini juga, saya pernah sempat kepikiran film Milly dan Nathan yang saya tonton bersama Fiscka dan Rizka. Bagaimana kalau saya jadi penulis sajaaaa?? *ahahahaha..plak. stress tingkat dewa.

Selasa, 21 Juni 2011

terimakasih G4, -Algebra Titania-

well,
18 Juni 2011 kemarin akhirnya berakhir sudah episode putih abu-abu.

sampai jumpa lagi lain waktu, G4. I'll miss you soon. :)


Kalian adalah salah satu rangkaian cerita yang tak akan hilang oleh waktu.
Kita akan selalu satu, hanya tempat yang berbeda. Karena kita punya jalan masing-masing, tetap satu tujuan, kebahagiaan. ;)

Allah bersama kita, dimanapun kita berada.
Ingatkan aku 5 tahun atau 10 tahun yang akan datang, kita kan kembali berpelukan. :)

Maaf jika nama Algebra Titania bukan nama terbaik untuk kita. Saya hanya berusaha.
Maaf untuk orang yang merasa sakit hati jika mendengar nama ini disebut-sebutkan.
Ini fana, tidak abadi. :)
Serenada Terakhir

Nun,
Demi kalam, dan apa yang tlah mereka tulis
Demi pena yang menorehkan tinta..
Dan demi satu warkat yang terbuka..
Demi petang yang hilang tenggelam
Dan
Demi Yang Maha Memanggil, dan Mengembalikan
….

Selepas hujan,
Aku..
Aku adalah perempuan jalan di pematang..
Ketika jatuh senjakala
Sawah muda,, angin muda..
Aku tetap melangkahkan terlampau gontainya..
Sesaat nanti harus ku injak pelataran rumahku..
Dan menunggu, dalam wajah larut yang tertunduk..
Tentu malaikat penjagaku yang akan sedia membukakan..
Disambut diriku dengan lekuk di kedua lesung pipinya
Dan dua bola mata yang berkaca binar..
Seolah malaikat itu ingin tiba merangkul tubuhku yang basah
Basah oleh korosi dingin, yang enggan pun merenggut simpatiku padanya
…
Oh, perempuan yang malang..
Perempuan yang datang tanpa mengetuk lalu merangkulnya
Perempuan yang jingga neraka langit mengiyakan duka
Perempuan cendana dan bunga-bunga sutra kelabu purawa..
Adapun ini hanyalah sisa jenaka malang, dan ku sebut itu luka
…
Aku adalah perempuan jalan di pematang..
Ketika jatuh senjakala
Aku menendang tanah jingga
Dan aku membayangkan dengan terang,,
Bagaimana ia menatapku
…
Sesaat,
Ketika aku terjaga,, dan terbangun setelahnya..
Aku melangkahkan kaki keluar kamarku,
setibanya aku di ujung daun pintu yang sedikit terbuka..
Terdengar suara perempuan paruh yang tersedu sedan,,
Terdengar pilu ketika itu mulai memasuki liang pikirku..
Dan sembilu ketika itu teracap di lidahku,
Tlah berkali aku dengar nama ku terselip dalam baris doa dan asmaNya..
Kiranya aku acuh oleh tiap baris sajak doa nya
Aku buta oleh kabut dalam kehidupan tak suci
Oh, Aku melihat..
Dan yang aku lihat hanya kehampaan, dan fana belaka
…
Oh, Aku tetap menjadi dingin..
Dan telah putih tangan –tangan jiwaku berdebu..
…
Hai, malaikat penjagaku..
Sebut namamu.. siapakah dirimu,,
Aku tak mungkin mengenalmu ,
sedang kau pun selalu bersembunyi di balik sajadah mu,,
dan menangis seolah kau bercengkrama dengan seorang yang tiada..
dan demi kau yang bersujud,
Ada yang kau renungi..
Sepanjang malam
Tentang coba yang masih melintang
Tentang anugerah yang tertunda
Oh, malaikat penjagaku..
Aku tahu kau..
Tak lebih dari sepertiga bentang danau yang dalam usai kau seberangi, tuk menjagaku
Serintang panjang padang ombak kau telah lalui, tuk menjagaku
Juga setebing karang curam,
Jatuh kau lewati, tuk menjagaku
…
Dalam malam yang sama,
Yang kau lakukan hanyalah diam termangu dan menunggu,
Sesaat hari yang tlah berganti,
Aku tiba di pelataran yang sama..
Dan
Tak ku temukan malaikat yang sama di daun pintu rumahku
Dimana kah malaikat penjagaku ?
Dimana ?
Dimana ?
Malaikat penjaga ……
Malaikat penjaga……
(suara malaikat penjaga)
Engkau bulan lelap tidur dihatiku
Oleh sepi diriku yang terampas waktu
Semua didindingi kelam dan kedinginan
Maut atau ribaku menunggu di ujung jalan itu..
Engkau angin dingin dan tak berbadan
Gersik rumpun pimping, rumpun ilalang
Wahai, sedan yang terluput dari liang luka
Di hati arwah kecil dan putih
Malam terbungkam kabut tipis..
Senja di langit barat berkerumun sepi
Aku harus kembali,
Pada Yang Maha Memiliki..
(perempuan)
Kau berdoa di malam hujan
Dan tak seorang tahu
Dari mana datangmu
Kau berdoa di malam hujan
Entah datang dari mana datangnya
Telah lebih dulu kau tahu
Tentang kepergian dirimu
Kau..
(malaikat penjaga)
Duduk
Berdiri
Terdiam
Berbicara
Tertawa
Marah
Sedih,
Wajah itu tangan itu tubuh itu..
Telah aku pupuskan sajak di pasir itu
Dan
berdiri aku di hadapannya.. ketika,
datang,
arungi buas waktu
Berperahu pada laut yang mati..
Kau ..
Kau yang terakhir
Kau yang melukis sajak di atas kafan yang mengambang
Mengarahkan perjalanan
Dimana harus kau temukan
Pelabuhan..
…
(perempuan)
Selepas hujan,
Aku..
Aku adalah perempuan jalan di pematang..
Ketika jatuh senjakala
Dan ku tahu..
Dan kini aku sungguh dalam kebenaran
Mengerti…
Saat ia nyata di depan mata dan dirasa
Keberadaannya adalah wajar saja
Sungguh kenikmatan itu baru terasa
Ketika ia telah tiada
Dan aku tahu kau..
Kau adalah Bunda..

…
Bunda..
Kau adalah mutiara di lumpur jiwa
Di rimba akasia aku tersedan tersedu
Seiring kabut yang berlalu..
Sebening air mata bunda
Bunga diri penjelmaan hati
Kristal hati tak bertepi
Ombak bersabung di kota yang mati
Bunda…
kau adalah nama bagi malaikat penjagaku..

sebuah karya Restu Gusti Uji Panuntun,
untuk wisuda dan pelepasan angkatan 4,
-Algebra Titania-
reblog from  Ilya Rosdiana

Sabtu, 11 Juni 2011

ya Allah...

Allah,
hilangkan semua kegalauan ini
hapuskan segala kekalutan ini.

Aku tiada tanpaMu.

Aku tak ingin ada ketakutan
Aku tak ingin hatiku diliputi kekhawatiran

Sungguh aku tiada tanpaMu, Rabbi.